Empat tahun yang lalu, hati ini jatuh dan terluka parah. Tak ada niatan untuk bangkit dan mencari kembali pegangan hidup. Rasa itu telah mati, dan kau hadir di tengah penantian panjang. Kehadiranmu di jejaring sosial, meminta untuk menjadi teman dalam lingkaranku. Kuterima dengan senyum terkembang.
Percaya ataupun tidak, beberapa hari sebelum kamu muncul, aku teringat dengan sosokmu yang menemani langkahku saat kita menuju pemandian umum. Ingin hati mencari keberadaanmu apa daya informasi tentangmu tertutup rapat. Tuhan mendengar doaku dan akhirnya kau muncul di rotasiku.
Kita saling memberi kabar, semakin hari semakin dekat dan akhirnya kita sepakat menjalin kisah. Itu terjadi pada dua tahun yang lalu.
Aku beradaptasi dengan sifatmu, demikian dengan kamu. Cinta kita tidak berjalan dengan mulus. Ada saja hal yang menghalangi jalan kita. Keraguan hati ini masih teruji dan aku tak sanggup menerima keadaan. Kita berpisah.
Singkat cerita, pernah kita berpisah hingga hampir satu tahun sejak hari perpisahan. Selama itu, hati ini benar-benar tidak menentu. Terkadang kamu hadir memberikan semangat yang aku cari, memberikan perhatian yang meluluhkan aku. Aku akui aku ingin kembali padamu.
Namun rupanya kau telah memiliki perempuan idaman. Aku tak suka, aku sakit, aku cemburu, dan aku benar-benar membencimu. Rasanya ingin menjauh dan tidak mengenalmu lagi. Hingga suatu hari, aku datang ke kota perantauanmu. Semula kita sepakat bertemu jika keadaan memungkinkan, namun ternyata tidak ada kesempatan untuk bersua. Padahal hati ini sangat ingin bertemu karena aku rasa rindu sudah berdiri di tepi jurang, tinggal menunggu jatuh. Semalam sebelum aku meninggalkan kotamu, kita sempat bercakap lewat bantuan teknologi.
Kamu : Lagi ngapain sekarang?
Aku : Nonton piLem sama Liat tipi.. pean?
Kamu : Nonton tipi juga, hehe..
Aku : Nonton apa sekarang..??
Kamu : [Sebut salah satu acara audisi], hehehe...
Aku :OwaLah, senengan'e kok yo nyanyi toh mas iki.. >.<
Kamu : Hehehe... Pean ndak pengen nyanyi di hatiku..?? Hehehe..
Aku : Gak mau... kaLo aku nyanyi di sana ntar ditendang pacar pean, hmm..
Kamu : Kan ada ruang Lainnya... hehehe..
Aku : Aku gak mau nyanyi di tempat yang banyak ruangannya... hmm...
Tidak ada balasan setelah itu, ternyata kamu menghubungiku. Mendengar suaramu adalah kedamaian bagiku. Meski saat itu aku lelah fisik karena sehari penuh telah berkeliling kotamu bersama kawanku, namun aku tetap mengangkat teleponmu, dari sanalah semuanya terbongkar.
Kau katakan sejujurnya bahwa tidak ada bidadari lain yang menempati singgasana di hatimu. Aku terbang melayang, bahagia antara percaya dan tidak. Selanjutnya, semua mengalir dengan canda dan tawa yang tertahan karena kawanku telah berada di alam mimpi.
Tak lama setelah kepulanganku, kita pun kembali merajut kisah. Saat itu tanggal 27 Maret 2013. Akan menjadi tanggal abadi kita. Tak akan ada lagi perpisahan. Aku yakini itu.
Aamiin...
- MM -

Tidak ada komentar:
Posting Komentar